pinterest.com

Goresan pena biru membelenggu

Diiringi petikan senar sumbang

Berharap setiap nada menuntun

Langkah kami untuk terbang

Meraih setiap asa dan mimpi

Mencari arti hidup kembali

Apa ini yang kami cari?

Apa memang kami yang buta?

Akal hilang, tubuh ringkih

Perlahan menyiksa ingin menyerah

Sakit tak menentu arah

Kami hanya ingin bertahan

Kopi ini kami seruput

Sembari menghisap rokok

Tuk sekedar menenangkan

Mengilhami maksudmu, Tuhan..

--

--

pinterest.com

Keresahan itu muncul mencuat

Dari seluruh pikiran buas

Eksistensi tentang rasa yang kuat

Realita, harapan pun tak meluas

Padahal kau sadar bahwa

Harapan tak pernah sesuai

Dengan seluruh impian, “kecewa”

Terlalu tinggi hingga terbuai

Katanya, “Aku terlena, Ia merusak”

“Bukan karena Dia, tapi Aku.”

Lambat laun aku sesak

Retak, pecah, padahal membeku

Ini rumit, sulit, sebuah konflik

Statis, tak bergerak, tak maju

Salah satu fase paling pelik

Hanya tak ingin kehilangan sosok itu

Berderak, menepi, mencari

“Ku tahu Ia menjual pasti”

“Dengan keindahan yang Ia punya”

Tapi karena aku, perlahan ia mati

Terlalu banyak cita dan mimpi

Ternyata aku mencintainya dengan pasti

Tapi apa yang bisa ku beri?

Hanya kekacauan yang hakiki

Perusak sudah terlalu banyak

Apakah manusia ditakdirkan begitu?

Kembali lagi aku merasa sesak

Tak ada ujung, tetap jua tak bergerak

--

--

pinterest.com

Sunyi perlahan pergi

Menjelma menjadi pagi

Bising itu memekakan

Merusak kesempurnaan

Merah menyala

Berubah menjadi Jingga

Bahasa tubuhku kaku

Perlahan membuatku malu

Dia merengkuhku

Mengasihi dengan sempurna

Jauhku tenggelam

Terbuai khayalan malam

Menghempas seluruh bayangan kelam

Dia bagai jingga

Menyentuh dalam jiwa

Dia bagai aksara

Menegaskan seluruh makna

Dia bagai merah

Membelai ku ramah

Dia ada dalam darah

Tak membuat ku kalah

--

--

pinterest.com

Terperangkap luka dalam

Senyap mengepung diri

Mengamini sembuh tiap malam

Akankah Ia introspeksi dari yang lalu?

Bukankah sakit menyuci dosa?

Tapi apakah akan selamanya begitu?

Bukankah lirih itu biasa?

Tapi apakah akan selamanya seperti itu?

Berusaha berjalan sendiri

Angkuh bahwa Ia mampu

Tak hayal selalu terjatuh

Menangisi diri penuh peluh

Bukankah hidup hanya sementara?

Tapi apakah saat ini waktunya?

Bukankah mati itu kembali hidup?

Tapi apakah soal aku akan redup?

--

--

https://id.pinterest.com/pin/310818811790067955/ (art by Bored panda)

Hari ini sudah terlalu banyak riuh yang bertemu.
Antara satu dengan lainnya namun tak kunjung jemu.
Hari ini aku menampung banyak kejadian historis.
Antara satu dengan lainnya berikatan pun pilu mengiris.
Jejak-jejak itu lekat di otak walau hati berubah melankolis.
Berharap semua tak selesai dalam waktu yang sangat tipis.

Aku…

--

--

Alia Pulungan

Alia Pulungan

What should I say? You know me from my words written down there. (This is my own works. No copying, anti plagiarism).